CENDERUNG FIKSI ATAU NON FIKSI? CARI TAHU YUK!
Kecenderungan seseorang dalam menulis tergantung bagaimana ia sering berlatih menulis apa? Ada yang cenderung menulis fiksi, ada juga yang cenderung non fiksi. Kalau saya sendiri lebih cenderung ke non fiksi. Awalnya saya cenderung fiksi karena sering mengikuti lmba-lomba menulis puisi, cerpen, dan cermin.
Selain itu, saya baru saja menggarap sebuah novel bergenre horror namun masih belum selesai dan akan saya selesaikan ketika saya mood. Terkadang ketika membuat puisi atau cerpen yang saya lombakan, saya sering mengalami writer’s block atau kebuntuhan. Saya tidak tahu apa yang akan saya tulis dan dalam pikiran saya tampak kosong tanpa ada bekas kata sedikitpun. Namun dari semua itu saya sering terpilih jadi penulis terpilih dan dapat menerbitkan karya saya.
Saya mencoba menerapkan apa yang pernah saya tulis di blog saya namun masih saja blank/ kosong. Akhirnya saya memutuskan untuk vacum sementara didunia kepenulisan fiksi. Tapi saya tetap menulis non fiksi berupa artikel opini. Awalnya saya ragu namun ketika saya coba, saya lancar menulis nn fiksi. Tulisan pertama kali saya buat adalah karya tulis ilmiah itupun tugas dari dosen, dan disusul membuat makalah, jurnal, esai, hingga akhirnya saya menemukan grup kepenulisan ODOP yang membuat saya belajar dan terus belajar sampai terlahirlah artikel opini.
Awalnya saya sedikit minder karena pasti di dalam grup ini banyak penulis blog professional dan sudah handal. Dan posisi saya disini saya sebagai penulis pemula yang masih buta akan dunia kepenulisan. Akhirnya saya belajar dan terus berlatih meski tugas perkuliahan menumpuk bagaikan bukit. Saya di perkuliahan juga mengikuti kelas menulis agar bisa melatih skill saya dalam dunia kepenulisan. Meski saya kendala waktu saya usahakan menyelesaikan semua tantangan yang diberikan. Itulah sedikit cerita saya tentang kecenderungan fiksi atau non fiksi.
Kencenderungan menulis fiksi atau non fiksi sebenarnya sudah kita miliki sejak dulu ketika kita kecil. Namun sayangnya itu semua terasah atau tidaknya tergantung diri kita masing-masing. Contohnya ketika guru memberikan soal analisis. Nah, ada yang mengerjakannya cepat tanpa hambatan, ada yang lelet karena susah mencerna, ada juga yang awalnya lancer tapi ditengah jalan berhenti dan berfikir lama.
Kita semua sebenarnya bisa menulis tapi kurang terasah saja. Contoh lain ketika ada lmba menulis puisi, sebut aja si A belum pernah menulis puisi, dan si B sering menulis puisi. Namun ketika pengumuman si A justru yang menang berarti si A punya kencenderungan dalam menulis fiksi. Lain kisah si B yang disuruh menulis esai oleh gurunya dan mendapakan nilai yang lebih tinggi dari si A, maka si B cenderung menulis non fiksi.
Sudah sekian dulu penjelasan menulis fiksi dan non fiksi.
Kalau Anda lebih cenderung mana? Fiksi atau non fiksi. Bisa saja Anda hebat di kedua genre? Intinya jangan patah semangat dan tetap tersenyum dalam menulis apapun. Kalian semua hebat kok.

dari banyaknya tulisan tantangan kedua yang aku kunjungi kurang lebih sama polanya ya, banyak yang suka nulis fiksi tapi saat disuruh milih justru memilih non-fiksi. semuanya sah-sah saja. tapi sebenernya aku tipe yang tidak terlalu suka dengan sistem mengkotak-kotakan genre tulisan sih. tapi, yah begitulah.
BalasHapusSaya lebih lancar kalau nulis fiksi, Kak... 😍
BalasHapus