Lima Kebijakan (Makan) Unggulan: Untuk meningkatkan Kesadaran Pentingnya Budaya Literasi
Pagelaran pemilu serentak mulai dari tingkat daerah sampai tingkat nasional telah usai. keadaan dan situasi bangsa indonesia semakin kondusif. Animo masyarakat yang berpartisipasi berangsur-angsur mulai menurun. Berbagai hal telah dilakukan dalam memberikan dukungan terhadap calon pemimpin mereka tak terkecuali perdebatan.
Dari sekian banyak perdebatan yang diadakan dihadapan kita semua, sekian besar membahas masalah yang bertemakan politik, insfratuktur, sosial, keagamaan, dan identitas kebangsaan. Herannya, jarang sekali masalah yang bertemakan pendidikan muncul dalam perdebatan tersebut. Bahkan di diskusi publik atau seminar pun jarang sekali. Padahal yang menjadi masalah paling serius akhir-akhir ini seiring masuknya pengaruh globalisasi adalah tentang budaya literasi indonesia.
Tingkat budaya literasi masyarakat indonesia masih tergolong sangat rendah. UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun.
Angka tersebut sangat berbeda jauh sekali jika disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku per tahun. Sedangkan warga Jepang membaca 10-15 buku setahun (Republika, 12 September 2015). Tingkat literasi kita juga hanya berada pada rangking 64 dari 65 negara yang disurvei. Satu fakta lagi yang miris tingkat membaca siswa indonesia hanya menempati urutan 57 dari 65 negara (Republika, 12 September 2015).
Sampai sekarang masalah pelik ini bukanlah menjadi perhatian yang serius seperti isu-isu yang lainnya. Jarang sekali terjadi perdebatan panjang yang dilakukan oleh politisi atau pakar-pakar dan disorot banyak media seperti isu yang lainnya. Berbeda ceritanya jika mereka memperdebatkan masalah kekuasaan, pasti akan sangat serius dan panjang.
Berkaca dari hal tersebut, bentuk perhatian yang dilakukan oleh pemerintah masih sangat minim sekali.
Kita tahu semua bahwa kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pegetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu yang didapat, sedangkan ilmu pengetahuan didapat dari informasi yang diperoleh oeh lisan maupun tulisan. Semakin banyak masyarakat suatu negara semangat akan mencari ilmu maka akan semakin tinggi peradabannya.
Budaya literasilah salah satu alternatif cara untuk mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan. Jadi menggalakkan budaya literasi menjadi sebuah kebutuhan pokok harus dilakukan suatu bangsa tak terkecuali Indonesia.
Berbagai faktor terindikasi menjadi penyebab rendahnya minat baca masyarakat atau budaya literasi, namun kebiasaan membacalah yang menjadi masalah utama dan mendasar. Padahal salah satu upaya cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar cepat menyesuaikan dengan perubahan global adalah dengan menumbuhkan sifat untuk gemar membaca. Tetapi melihat keadaan yang ada dalam masyarakat kegiatan membaca hanya menjadi kegiatan iseng belaka, bukan menjadi habit atau lifestyle.
Adapun beberapa program yang perlu diupayakan guna meningatkan budaya literasi terutama oleh kaum muda diantaranya sebagai berikut:
Pertama, mengadakan berbagai lomba kepenulisan. Dari sini tentu para peserta akan terpacu dalam membaca berbagai literatur guna menyelesaikan tugas perlombaannya tersebut. Misalnya diharuskan memakai literatur yang tersedia diperpustakaan.
Berawal dari hal yang semacam itu seiring berjalannya waktu pasti akan terbiasa membaca sehingga akan menjadi kebiasaan bahkan menjadi sebuah kebutuhan.
Kedua, kita sebagai kaum muda membantu menjangkau daerah pedalaman Indonesia yang masih minim akan perkembangan pendidikan disana. Hal tersebut bisa kita lakukan dengan cara menjadi relawan untuk mengajar atau mengabdi di sekolah-sekolah. Selain itu juga bisa membuat perpustakaan mini atau perpustakaan keliling yang bisa diakses oleh semua kalangan yang berada disana. Salah satu Deputi Bidang Pengembangan Perpustakaan Nasional Dra. Woro Titi Haryanti, MA juga memberikan komentar akan perhatian rendahnya minat baca masyarakat Indonesia disebabkan karena kurangnya buku-buku yang ada di perpustakaan umum, terutama di daerah terpencil.
Ketiga, bagi para kaum muda yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi pasti memiliki banyak buku dalam menopang kegiatan belajar selama menempuh pendidikannya. Setelah selesai, buku tersebut hendaknya dibawa pulang menjadi oleh-oleh di kampung halamannya. Dengan demikian dirumah akan tersedia koleksi buku yang bisa menjadi media edukasi (perpustakaan mini) dalam meningkatkan budaya literasi di lingkungan keluarga. Yang mana seiring berjalannya waktu, juga dilengkapi buku-buku lainnya seperti buku anak, buku pengetahuan umum dan sebagainya agar bisa diakses oleh semua anggota keluarga.
Keempat, mengikuti komunitas pegiat literasi daerah lingkungan tempat tinggal. Dengan mengikuti komunitas bisa mengembangkan dan mensosialisasikan pentingnya membiasakan gemar membaca. Selain itu juga bisa menjadi wadah untuk bertukar pikiran oleh sesama pegiat literasi.
Kelima, aktif mengampanyekan dan mensosialisasikan di berbagai media sosial. Tak hanya mensosialisasikan pentingnya budaya literasi, hendaknya para kaum muda mengunggah hasil karya tulis atau karya ilmiah sehingga akan mudah diakses. Apalagi melihat animo masyarakat Indonesia yang sebagian besar mempunyai dan menggunakan media sosial, bahkan menjadi salah satu negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia.
Berdasarkan laporan digital tahunan yang dikeluarkan oleh We Are Social dan Hootsuite pada tahun 2018, pengguna aktif facebook indonesia saja tercatat menguasai dua pertiga pasar dengan jumlah pengguna lebih dari 2,17 miliar. Di tahun tersebut disebutkan Indonesia tercatat menyumbang jumlah pengguna facebook terbesar urutan ke-empat secara global. Hingga januari 2018, jumlah pengguna facebook dari Indonesia mencapai 130 juta pengguna dengan presentase enam persen. (kompas, 2 Maret 2018)
Buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya. Dengan membaca buku akan mempengaruhi mental dan perilaku seseorang, bahkan akan memberikan pengaruh terhadap masyarakat. Yang pada akhirnya kegemaran membaca ini akan menjadi budaya literasi dan menentukan bangsa yang berkualitas. Kalimat tersebut sangat mudah diucapkan, tetapi perlu kerja keras untuk mewujudkannya terutama di Indonesia.
Oleh karenanya, mari kita jangan terlalu mengandalkan kepada pemimpin-pemimpin kita. Setidaknya dengan lima kebijakan unggulan yang ditawarkan di atas bisa sedikit membantu mengentaskan masalah minimnya minat baca masyarakat Indonesia. Dari lima kebijakan tersebut diantaranya: mengadakan berbagai lomba kepenulisan, membantu menjangkau daerah pedalaman Indonesia yang masih minim akan perkembangan pendidikan disana, membuat perpustakaan mini di rumah, komunitas pegiat literasi daerah lingkungan tempat tinggal, aktif mengampanyekan dan mensosialisasikan di berbagai media sosial.
Mari kita bangun kesadaran bersama, budaya literasi Indonesia sudah dalam keadaan kronis. Saatnya masyarakat sipil dan kaum muda seperti kita ini bergerak sembari mengingatkan para elite politik dan pemimpin kita agar mengambil kebijakan yang efektif dan memberikan perubahan demi masa depan negara Indonesia tercinta.
DAFTAR PUSTAKA
Permatasari, Ane. 2015, Membangun Kualitas Bangsa dengan Budaya Literasi, Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa UNIB 2015
Republika, 12 September 2015
Tempo. Co , 03 November 2013

Minat baca meningkat, hanya saja baca status orang .. hehee..
BalasHapusTemen saya yang di Aceh, agak pedalaman. Sulit dapat buku bacaan, mengingat jarak ke perpustakaan pun berjam-jam lamanya. Tapi saya salut, dia penggiat literasi di kampungnya.