Cerpen "Aku Menyesal"

               Aku menyesal

    Cahaya matahari menyorot sebuah desa yang penuh kekayaan alamnya, menyapa setiap jengkal kehidupan disana, membawa sercecah harapan bagi setiap insan yang menyambung hidupnya lewat pohon-pohon besar yang tumbuh lebat di desa Batipuh. Di desa inilah, untuk pertama kalinya aku bertemu Hayati, perempuan dengan segala kelembutannya yang mampu menakhlukan hati setiap kaum adam yang melihatnya.
Perempuan yang aku cintai hampir dua tahun. Ah salah, tiga tahun ini.

     Disinilah aku, laki-laki miskin yang tidak pernah dianggap di tanah kelahiranku, dikucilkan dari pergaulan lantaran tak jelas asal-usulku. Masih hangat dibenakku mengingat pengusiran yang dilakukan pemuda Batipuh, saat hari kedua diriku menginjakkan kakiku disini.

“Maaf Zainal, disini hanya orang-orang tulen Batipuh saja yang boleh ikut membahas acara perayaan tahunan ini.”

    Hatiku terasa panas, bukan karena pengusiran itu namun disini aku merasa terasingkan. Aku tahu, mereka hanya mematuhi adat yang masih kokoh berdiri di tanah leluhurku dan bahkan adat itu masih dijunjung tinggi layaknya keyakinan akan agama. Aku tidak pernah menyesal terhadap penolakan, cacian dan penggusiran orang-orang Batipuh kepadaku. Disini aku cukup bahagia lantaran Tuhan masih memberiku sesosok ibu yang tangguh, yang menjadi panutanku untuk tetap semangat menjalani takdir.

    Hujan rintik-rintik membasahi daratan ini, menyapu dengan dinginnya air hujan, membuat tumbuh-tumbuhan yang tampak layu terlihat  segar kembali. Kulihat dantara deraian air hujan yang melesat tanpa permisi ini, terlihat sesorang perempuan yang sedang berteduh di bawah pohon. Ia tampak begitu kedinginan lantaran hembusan angin yang berlalu lalang tanpa permisi, menembus sampai kekulitnya yang lembut. Kuhampiri dia, lalu menawarkannya payung yang aku bawa.

  “Hayati, pakailah payungku ini! kulihat kau begitu kedinginan, pulanglah dan hangatkan tubuhmu.”

“Tapi Zainal, kau bagaimana?”

“Tidak usah memikirkanku, aku ini laki-laki yang pasti fisikku lebih kuat darimu.”

  “Baiklah, Zainal.”

    Hayati menerima payung dariku, lalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri menatap punggungnya yang semakin lama semakin hilang ditelan waktu.

   Semenjak peristiwa hujan itulah, kini hubunganku dengan Hayati menjadi semakin dekat. Kami saling bertukar surat lewat burung dara yang kami beri nama Haza. Lama-kelamaan ada sesuatu dorongan dari diriku  untuk memiliki Hayati sepenuhnya. Aku meminta Maria, ibuku untuk meminang Hayati  untukku. Kami pergi ke rumah Hayati dengan perasaan campur aduk karena bimbang. Ibuku menjelaskan maksud tujuan kami kepada Pak Samin, Ayah Hayati. Kulihat Pak Samin yang awalnya menyambut kami dengan bersuka cita kini terlihat marah, matanya tajam melirikku, tangannya mengepal seakan ingin mendaratkan bogeman diwajahku, dan urat nadinya tercetak jelas di balik kerah bajunya. Iapun berdiri dan menggebrak meja yang tak bersalah.

 “Kau bilang Maria! Kau bilang pada anakmu, anakmu tidak pantas bersanding dengan putriku. Asal usulnya saja tidak jelas, lagi pula kau dan anakmu miskin. Jika seandainya Hayati benar-benar menikah dengan Zainal, nak  makan apa ia besok? Nak makan batu?” bentak Samin.

Hal itu membuat hati ibuku teriris perih. Masih sempat kulihat ia menyeka air matanya dengan cepat karena takut kalau aku melihatnya. Aku yang tidak tahan melihat keperihan yang dirasakan wanita dihadapanku ini, akhirnya berdiri menantang Samin.

“Memang kenapa kalau kami miskin! Kalau bapak menolak pinangan saya, saya akan terima. Tapi bapak tidak usah menghina kami seperti itu. Saya berjanji ini terakhir kalinya saya menemui anak bapak dan menginjakkan kaki saya disini. Bapak bisa pegang janji saya, maaf kalau kedatangan kami membuat bapak tidak senang dan sekarang kami akan pergi.”

  Aku menarik tangan Maria, ibuku untuk keluar dari rumah Hayati dengan kekecewaan yang teramat besar.
                           ****

    Angkasa kini telah kehilangan kebiruannya. Sedikit demi sedikit warnanya memudar dimakan oleh semburat merah.Lembayung senja dengan indahnya melukiskan cakrawala. Memberikan pemandangan elok untuk kepulangan raja siang ke peraduannya.

    Tak beda dari sore lainnya, aku kembali duduk di teras rumahku, menatap kosong ke hamparan rumput hijau dan menikmati belaian lembut angin yang berlalu lalang. Disaat seperti inilah sudah menjadi rutinitasku untuk melupakan Hayati. Semakin aku berusaha untuk melupakan HayatI, semakin  bertambah rasa cintaku padanya. Pernah terlintas dipikiranku untuk mengunjunginya, namun aku memutuskan niatku kembali karena aku teringat janjiku dulu.
Tanpa ada angin, tanpa ada hujan. Kulihat orang yang terang-terangan menolakku datang dengan ekspresi yang tidak dapat aku duga. Wajahnya begitu kacau, pandangannya seakan mengemis perhatianku. Kemudian ia duduk tersimpuh di depanku. Akupun kaget bukan kepalang, seseorang yang kukenal sombong kini bersimpuh lutut di depanku. Kulihat bibirnya mulai bergetar seakan ingin mengucap kata.

“Kumohon Zainal…… kumohon! Kembalilah ke rumahku temui Hayati, temui anakku. Aku tidak bisa melihatnya seperti ini terus-menerus.”

   Aku masih tetap berpegang pada janjiku dulu, janji yang pernah teruncap dari mulutku. Kemudian aku membalas permohonan Pak Samin.

“Maaf Pak Samin, hatiku seakan sudah beku seiring penghinaan yang telah kau uncapkan kepadaku dan ibuku. Kau bayangkan setetes tinta yang masuk ke dalam segelas air. Apa jadinya? Kau bisa simpulkan sendiri.”

    Akupun masuk ke dalam rumah meninggalkan Pak Samin dengan mata berkaca-kaca.
Dua bulan kemudian, betapa terkejutnya aku mendengar Hayati meninggal dunia. Saat itu, hatiku hancur lebur menjadi bubuk, bahkan aku nyaris tumbang. Inginku menemui hayati untuk terakhir kalinya, namun apa dayanya aku, aku takut untuk menemui Pak Samin. Karena ketakutan inilah membuatku mengurung diri di dalam kamar. Berbulan-bulan aku seperti orang gila dan bahkan aku bagai jiwa tanpa nyawa.

    Keesokan harinya, Ghoni datang ke rumahku untuk menemuiku. Ibuku memperbolehkan Ghoni masuk ke kamarku. Aku tak menghiraukannya dan justru menutupi diriku dengan selimut. Kudengar dia melangkahkan kakinya ke arahku dan duduk di samping ranjangku.

“Sampai kapan kau seperti ini Zainal? Kudengar dirimu dari ibumu begitu memperhatinkan. Aku bahkan  sudah mengikhlaskan kepergiaan adikku. Aku kesini hanya ingin memberimu ini.”

   Ketika aku sudah tidak mendengar apa-apa, aku memutuskan untuk melihat apa yang diberikan Ghoni kepadaku. Aku menaikkan sebelah alisku, bingung melihat apa yang diberikan Ghoni kepadaku.

“Sebuah surat, surat apa ini?” batinku. Karena penasaran aku memutuskan membukanya.


Untuk Zainal

Cukup lama kita tidak berjumpa, membuatku merasakan sesak yang teramat dalam. Asal kamu tahu Zainal, aku begitu mencintaimu. Aku tahu penghinaan yang dilakukan ayahku dulu membuatmu sakit hati, akupun juga sakit mendengarnya.

   Aku bertambah sakit ketika kamu menggusir ayahku yang memohon untuk menemuiku, namun kamu menolaknya.
Sebegitu bencinya dirimu kepadaku sehingga kamu tak pernah mau menjenggukku. Dan bahkan saat hembusan terakhirku kamu tidak pernah ada.

   Hanya dua perkara yang dapat aku sampaikan kepada Tuhan. Pertama, menjadikanmu kekasih hidupku di dunia dan yang kedua, agar Tuhan menjadikanmu kekasih hidupku di akhirat kelak. Cuma satu harapanku di dunia, bersihkan hatimu kembali agar kita sama-sama menghapuskan kekecewaan di masa lalu.. maafkan aku Zainal, jika aku mati lebih dahulu darimu.

   Janganlah kamu berduka, sebaliknya berdoalah untukku kepada Tuhan. Selamat tinggal, Zainal. Selamat tinggal kekasih hatiku.

Hayati


   Membaca surat dari Hayati membuatku tidak kuasa menahan tangis. Aku menyesal dulu tidak pernah menemuinya dan bahkan saat hari terakhirnya, aku tidak pernah ada dan kini tinggallah penyesalan yang ada. Andai waktu bisa diputar kembali aku ingin menemuinya untuk terakhir kalinya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Menulis Cerita Mini

BAHAN AJAR MATERI HAK DAN KEWAJIBAN KELAS VI

Merasa kesepian dan terisolasi?