Cara Generasi Milenial dalam Pengelolaan Sampah di Lingkungan Sekitar
Generasi milenial yang terkenal acuh tak acuh terhadap lingkungan sekitar namun mahir dalam hal teknologi seperti media sosial. Generasi milenial cenderung apatis terhadap lingkungan sekitar. Generasi milenial cenderung tidak peduli terhadap sampah yang ditemukan berceceran di jalan dan tidak mempunyai tekad untuk membuangnya.
Teknologi yang canggih harus bisa dimanfaatkan generasi milenial untuk menyosialisasikan gerakan Indonesia bersih sampah seperti pada Komunitas Muda Urban di Yogyakarta yang berkolaborasi dalam Aliansi Komunitas Yogyakarta (Nugroho, 2017)
Di desa Cawas, para pemuda berbondong-bondong membersihkan sungai dengkeng dari sampah plastik yang menyumbat aliran sungai untuk mengalir lebih jauh lagi. Selain itu, pemuda disana juga sangat kreatif dalam mengelola sampah. Menurut pemaparan salah satu pemuda desa Cawas, Alif Tri Wibowo, bahwa salah satu cara mengelola sampah dengan memanfaatkan barang-barang bekas rumah tangga yang sudah tidak digunakan lagi untuk dijadikan hiasan taman.
Desa tersebut membuat taman dengan memanfaatkan barang-barang bekas seperti botol bekas minuman, botol bekas pembersih, sampah plastik bekas deterjen, ban bekas yang sudah tak terpakai dihias sedemikian rupa sehingga taman tersebut menjadi menarik dan banyak dijadikan spot foto. Karya pemuda tersebut patut diajungi jempol karena beberapa desa lainnya juga melakukan hal yang sama untuk membuat taman yang sama-sama memanfaatkan barang-barang bekas. Peran generasi milenial dalam hal ini sangatlah penting untuk menggerakkan pemikiran yang rasional untuk membuat lingkungan menjadi sehat, bersih, dan nyaman untuk ditinggali.
Dalam lingkup sekolahan, generasi milenial mengelola sampah dengan mengadakan sebuah lomba kerajinan tangan yang terbuat dari sampah.
Menurut Pak Sutaya, Pembina pramuka SMAN 1 Cawas, setiap tahun SMAN 1 Cawas mengadakan lomba kerajinan tangan yang terbuat dari sampah dalam ekstrakulikuler pramuka. Tujuan diadakan kegiatan tersebut untuk menyadarkan generasi muda agar peka terhadap lingkungan terutama sampah. Murid-murid SMAN 1 Cawas mengubah sampah menjadi tas yang terbuat dari plastik deterjen, mobil-mobilan dari kaleng bekas, sandal dari kardus bekas, celengan dari botol bekas, dan lain-lainnya.
Dalam lingkup perkuliahan, generasi muda mengelola sampah dengan menampilkan sebuah pertunjukkan fashion show yang bahan dasarnya terbuat dari sampah. Contoh nyatanya pada acara biotik yang merencanakan pertunjukkan fashion show yang akan diadakan di poliklinik pada program lombanya. Kegiatan itu tentunya dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap sampah. (Noni, 2009)
Selain dikelola sampah juga harus dikurangi, cara pengurangan sampah yang dilakukan generasi milenial adalah menggantikan plastik kresek besar dengan membawa tas belanja sendiri ketika berbelanja, ketika membeli makanan di supermarket atau warung sebaiknya menolak untuk diberi kantong plastik, menggantikkan botol plastik wadah minuman dengan membawa botol minum, memakai masker kain yang bisa dicuci ulang. (Handayani, 2009)

Nice info, Kak
BalasHapusPatut ditiru untuk SMAN 1 Cawas. Joss
BalasHapusKeren. Tapi emang plastik sulit dipisahkan dari kehidupan sihh.
BalasHapus