KONTROVERSI FILM THE SANTRI?
Meski baru direncanakan rilis tahun depan, film the santri banyak sekali dikecam oleh masyarakat. Film ini disutradarai oleh Zheng banyak menuai controversial. Film yang diperankan Gus Azmi, Veve Zulfikar, Wirda Mansur, dan Emil Dardak ini banyak sekali mengalami penolakan beberapa pihak untuk ditayangkan di bioskop bahkan hingga dikritik habis-habisan.
Terlepas pendapat pro dan kontra ketika film The Santri rilis, jauh sebelum Livi sudah menjadi isu kontroversi media social yang mempertanyakan prestasinya dalam bidang persutradaraan film di Hollywood.
Film The Santri ini dapat dipandang dengan dua pendekatan. Pendekatan yang pertama yaitu pendekatan retorik dan ekstual maka hasilnya akan dihujat dan cenderung dikritik hingga dilarang. Kalau dilihat dari sudut pandang kontekstual, maka akan dihasilkan pendapat yang baik dan penuh apresiatif terhadap karya anak bangsa.
Film The Santri sebenarnya masih merilis trailer film yang sudah menyebar ke media social dan kemudian menuai hujatan dan kritikan dari para netizen. Fatwa-fatwa berbau agama juga semakin massif muncul dari Ustadz Virtual sebagai legitimasi penolakan terhadap film tersebut.
Film The Santri dianggap melanggar syariah dan sama sekali tidak mencerminkan budaya santri pada umumnya. Konsep pesantren dan santri yang dimunculkan dalam trailerfilm bagi mereka (yang menolak) merupakan realitas yang keliru, mereka (para netizen) mengkritik film the santri pada adengan santrinya yang berpacaran dan berkumpulnya santri putra dan putrid dalam satu majelis tanpa adanya sekat atau tabir yang bisa membatasi antara santriwan dan santriwati.
Hal itu sama sekali menyalahi aturan pesantren dalam tata tertibnya. Dalam pesantren antriwati dan santriwan dilarang keras pacaran dan berboncengan motor, hal itu biasanya kena takziran. Takzirannya biasanya berupa teguran, kalau konteksnya sudah pacaran biasanya akan dikembalikan ke orang tuanya masing-masing.
Kalangan yang mengkritik film The Santri itu tidak tahu berbagai model pesantren dan bahkan pola dari model pesantren itu sendiri. Menurut Zamakhsyari Dhofier (2011) model pesantren yang khas di Indonesia ada yang bercorak tradisional. Semi-Modern, dan Modern. Diantara ketiga model pesantren tersebut terdapat pola yang berbeda-beda. Terdapat pesantren yang memang memisahkan santri putra dan putrid dalam satu studinya, ada pula yang menggabungkan santri putra dan putri dalam satu studinya dalam satu atap majelis ilmu, yang biasanya hal itu dilatarbelakangi kurangnya pembangunan infrastruktur pesantren.
Dan untuk romantisme dalam triller Film The Santri yang menjadi hujatan netizen, sejujurnya banyak kasus pacaran kalau boleh jujur banyak sekali santri putra dan putrid yang pacaran. Padahal itu sudah ada tata tertibnya bahwa hal itu sangat dilarang keras dalam dunia pesantrenan. Namun mereka para santri malah melanggarnya dan melakukannya secara sembunyi-sembunyi.
Dalam agama pacaran memanglah sangat dilarang dalam agama dan ada juga menjelaskan seperti berikut:
“Ditusuk dengan besi panas leih baik daripada bersentuhan laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim.”
Nah, kalau misalnya pacaran pasti ada adegan pegang-pegang tangan atau bahkan lebih, hal itu tentunya dilarang agama. Ada pertanyaan seperti ini “Tapi kan kita hanya chatingan saja.”
Ketahuilah ukhty-ukhty dan akhi-akhi bahwa pacaran dalam bentuk apapun itu dosa besar dan tidak akan masuk surga. Itu sama aja dengan zina mata, tangan, hati, pikiran, dan perkataan. Ada larangannya “Janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu perbuatan yang keji dan mungkar.”
Kalau misalnya dalam pesantren antara santri putra dan putri diperbolehkan dalam satu majelis asalkan ada sekat / tabir yang membatasi keduanya.
Sekian penjelasan dalam triller film The Santri, seharusnya kita lebih bijak dan apresiatif dalam menilai, jangan sampai gegabah dalam menilai suatu karya film tanpa tahu semua isi karyanya secara komprehensif.

bener banget nih film baru keluar trailer aja sudah kena serangan komen negatif, aku juga bingung padahal yang terlibat anak dari ustad kondang tapi kenapa begitu. aktornya juga anak santri. tapi aku gak mau terlalu berkomentar tentang sisi agama karena aku juga belum terlalu baik agamanya. tapi, kalo boleh jujur dari awal aku gak srek karena si tukang ngaku dapet bespikcer itu tuh. ehehe.
BalasHapusoiyah, maap mau sedikit berbagi, menurut aku ada sedikit kekeliruan dalam penggunaan kata; penggunaan kata kontroversi dan kontroversial tertukar, terus kata apresiatif harusnya apresiasi. sekian.
semangat terus nulisnya ya!
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTentang adanya pacaran dalam zona pesantren, itu bukan rahasia umum lagi. namun tetap saja, kriteria film the santri mencoreng nama baik pesantren, karena hakekatnya pesantren yang ada di indonesia tidak peduli semi modern atau apapun namanya. Setiap pesantren pasti menjunjung tinggi nilai2 keagamaan yang di ajarkan oleh islam, dan pesantren selalu tegas mengenai lakum diinukum waliyadiin (untukmu agamamu dan untukku agamaku):)
HapusAku pun ingin panjang lebar menanggapi film ini, tapi masih ku pendam. Film ini seperti RUU P-KS yg dikemas dengan apik tapi isinya jangan ditanyakan pasti akan buat kita terkesima
BalasHapusPesantrennya, pesantren jaman now, jaman milenial. Hihii
BalasHapusYang dikhawatirkan dari cerita film ini ke depannya adalah : tontonan yang menjadi tuntunan.
BalasHapusSaya takut, setelah film ini resmi diluncurkan, orang-orang akan kemudian berpikir begitu saja bahwa di pesantren boleh pacaran, santri boleh berdua-duaan, santri boleh menitip surat kepada lawan jenis.
Kalau sudah begitu, hancur marwah wibawa pesantren yang didirikan dengan tujuan mendidik generasi penerus bangsa dengan nilai-nilai islami sebagaimana yang diajarkan Kanjeng Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan para sahabat radhiyallahu 'anhum.
Salam diskusi, kak... 😁