Autobiografi

 Aku terlahir dengan keluarga yang sangat mengedepankan Ambisius. Ayah dan ibuku sudah lama mengeluti dunia perdagangan. Yah, ayah dan ibuku seorang pedagang pakaian. Dulu sekali keluargaku miskin hingga sering dimaki-maki tetangga lantaran hanya minta api buat memasakQ saja tidak punya uang. Namun setelah ibuku merantau dan akhirnya kehidupanku menjadi layak.

Perjalanan keluargaku dari nol hingga bisa punya rumah dan hidup berkecukupan. Apalagi tetangga yang suka ngosipin sana sini tentang keluargaku membuatku sedikit marah. Namun aku harus sabar karena Tuhan bersama orang-orang yang sabar.

AMBISIUS BUAT JADI NOMER SATU? HATI ATAU JUARA

Ambisius itulah satu kata yang dapat saya artikan untuk diri saya saat saya menduduki bangku sekolah menengah pertama. Pasti tidak bakal menyangka anak yang dulu waktu sd tidak pernah mendapatkan juara kelas akhirnya semasa SMP dia berhasil mendapatkan ranking satu pararel. Dan itu semua karena aku jatuh cinta kepada seorang lelaki yang ku ketahui adalah teman sekelasku. Dia awalnya membuatku ngebenci dia karena dia suka usil kepadaku hingga pada akhirnya saat aku menginjak kelas 8, aku satu bis dan duduk berdua dengannya. Awalnya cuma ledekkan akhirnya ada benih-benih cinta didalamnya. Sejak saat itu aku berjanji pada diriku buat menarik perhatiannya termasuk menjadi juara satu pararel. Setelah kelas 8 semester 2 aku ternyata mendapatkan juara satu pararel. Aku begitu senang dan dia tersenyum kepadaku. Tapi cinta kita tak seindah jalan tol dan pada akhirnya kandas ditengah jalan.

KEHIDUPANKU Di SMA

Aku sepenuhnya tak ingin bersekolah di SMA favorit di kotaku. Namun ortuku mengancam dan tak akan menyekolahkanku dan pada akhirnya aku pasrah saja. Awalnya aku mendaftar di SMK karena aku ingin cepat-cepat bekerja dan membantu orang tuaku namun pada akhirnya pilihan orang tua yang harus aku turuti.
Sudah sejak awal aku tak mau besekolah di SMA tapi tetap dipaksa dan aku mangancam ngga akan serius sekolah kalau ngga masuk IPS tapi Tuhan punya rencana lain. Aku dipertemukan di jurusan IPA dan itu membuatku tak bersemangat sekolah. Teman-teman disana hanya memandang pilih-pilih atau semancam geng-geng. Aku selalu saja dapat kelompok buangan yang mana di tiap ada tugas selalu aku yang mengerjakan. Aku ingat betul saat itu ada tugas kimia yang mengharuskan mengerjakan 40 soal beserta caranya. Aku mengerjakan sendiri, sebenarnya temanku aku suruh untuk mengerjakan tapi pada ngga bisa dan akhirnya aku berusaha buat nyari jawabannya namun pada akhirnya selesai. Begitulah perjalanan hidupku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Menulis Cerita Mini

BAHAN AJAR MATERI HAK DAN KEWAJIBAN KELAS VI

Merasa kesepian dan terisolasi?