Trisna Wono, Sebagai Wisata Edukasi Pengenalan Hutan Hujan Tropis di Indonesia

 Trisna Wono, Sebagai Wisata Edukasi Pengenalan Hutan Hujan Tropis di Indonesia

Indonesia adalah negeri yang pemalu. Kekayaan alam yang ada di dalamnya, ia sembunyikan dibalik perisai yang tak banyak orang bias menembusnya. Salah satu kekayaan yang ia sembunyikan adalah hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis, siapa yang tak kenal padanya? Hutan hujan tropis adalah paru-paru dunia yang wajib untuk kita lindungi. Bagaimana tidak, daratan Indonesia yang hanya mencakup 1,3% daratan bumi ini memiliki 10 % tumbuhan, 12 % mamalia, 16% reptil dan amfibi, 17 % burung dunia (Collin et al. 1991). Namun sayangnya tak banyak orang yang tahu kekayaan yang ada di hutan hujan tropis karena perisai alami yang melindunginya. Perisai ini berupa medan yang sulit dijangkau, banyak binatang liar yang berbahaya dan juga letaknya yang hanya terdapat di sepanjang garis katulistiwa.

Orang bilang itu ‗Tak kenal maka tak sayang‘. Kalau generasi penerus bangsa ini tak kenal dengan kekayaan yang ada di hutan hujan tropis, maka tidak akan pernah ada sayang kepada hutan. Padahal dengan adanya rasa sayang itu, mereka akan lebih peduli. Jadi akan lebih baik bila mereka dikenalkan dengan kekayaan yang ada di hutan hujan tropis. Oleh karena itu dibuatlah suatu gagasan yang berjudul, Trisna Wono, Sebagai Wisata Edukasi Pengenalan Hutan Hujan Tropis di Indonesia.

Lalu bagaimana konsep yang diterapkan disini? Trisna Wono akan mengenalkan tumbuhan, hewan dan juga kondisi di hutan hujan tropis. Dalam mengenalkan tumbuhan, Trisna Wono menawarkan. Taman tanduran. Taman tanduran ini memerlukan suatu lahan terbuka yang subur. Kemudian dibuatlahplot-plot yang berjumlah 26, yang masing-masing plot telah diberi nama dari huruf A sampai Z. 

Plot ini bentuknya lingkaran dengan penutup berbentuk setengah bola. Apabila telah dibuat plot, diperlukan banyak ilmuwan khususnya ahli botani dan para masyarakat untuk terjun langsung ke hutan hujan tropis. 

Ahli botani diperlukan untuk mengenali spesies tumbuhan yang ada di dalamnya. Sedangkan masyarakat diperlukan untuk membantu mengambil beberapa sampel tumbuhan kemudian menanamnya ke Taman tanduran. Penanaman tumbuhan ini tidak sembarangan, karena tumbuhan ini akan ditanam di plot berdasarkan huruf alfabet pertama dari nama latin tumbuhan tersebut. Misalnya: Manilkara zapota(Sawo Manila) yang ditanam di plot M.

Tahap terakhir yaitu pelabelan. Setiap tumbuhan diberi nama latin dan nama lokalnya. Selanjutnya masyarakat akan diterjunkan untuk merawat dan mengelola Taman tanduran ini. Agar masyarakat mau untuk terjun merawatnya, maka proyek ini harus bekerja sama dengan pemerintah. Jadi masyarakat yang terlibat didalamnya akan mendapatkan gaji dari pemerintah sebagai wujud apresiasi.

Untuk menjaga kualitas dari Taman tanduran ini maka setiap 1 bulan sekali akan diadakan monitoring terhadap tumbuhan yang ada di setiap plot. Monitoring ini dilakukan untuk meminimalisasi adanya tumbuhan yang tidak sesuai dengan plotnya, karena bisa jadi biji dari suatu tumbuhan terbawa serangga atau angin ke plot lain sehingga tumbuh tidak pada tempatnya.

Sebuah wahana tidak akan terasa menyenangkan bila tidak ada tantangan di dalamnya. Begitu pula dengan Taman tanduran ini, di dalamnya terdapat peraturan dan game yang harus dipatuhi agar terasa lebih seru dan menyenangkan. Pengunjung yang ingin masuk ke suatu plot harus menyebutkan satu nama spesies tumbuhan yang berawalan dengan huruf plot tersebut. Apabila berhasil, mereka boleh masuk.

Misalkan ingin masuk ke plot G, pengunjung menyebutkan Gnetum gnemon baru bisa masuk ke plot tersebut. Apabila pengunjung tidak tahu, maka nanti akan ada petugas yang memberi tahu atau mereka bisa melihat daftar nama tumbuhannya pada papan yang ada di depan masing-masing plot. Di dalam plot ini mereka bebas untuk berfoto-foto dan mencatat nama tumbuhan yang di dalamnya. Mereka dilarang untuk memetik dan mengambil tumbuhan yang ada, hal ini untuk menjaga tumbuhan agar tidak mati.

Setelah itu, apabila mereka ingin keluar dari plot itu maka mereka harus menyebutkan minimal 3 nama spesies agar bisa keluar. Misalkan mereka ingin keluar dari plot A, mereka menyebutkan Arachnis flos-aeris, Alamanda chatartica dan Amorphpophallus titanium, baru mereka bisa keluar dari plot. 

Apabila belum bisa, mereka bisa berkeliling lagi menghafalkan nama latin tumbuhan yang ada di plot itu. Hal ini dilakukan untuk menambah wawasan mereka sekaligus memastikan bahwa mereka mendapatkan pelajaran dari Taman tanduran ini.Untuk menambah informasi tentang tumbuhan yang ada di Taman tanduran, disini disediakan fasilitas yang bernama ―Smart Computer‖. Fasilitas ini ada di beberapa titik di luar plot. Komputer inilah yang akan menyimpan data tentang tumbuhan yang ada di Taman tanduran ini yang setiap saat dapat diakses oleh para pengunjung. Informasi yang bisa didapatkan di Smart Computer ini adalah foto tumbuhan, ciri-ciri batang, daun, bunga dan habitat aslinya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Langkah Menulis Cerita Mini

BAHAN AJAR MATERI HAK DAN KEWAJIBAN KELAS VI

Merasa kesepian dan terisolasi?